Sunday, September 27, 2009

ASI Lebih Baik

Kita kerap kali mendengar iklan di radio yang menawarkan susu kuda liar, tetapi sering bertanya bagaimana sih rasanya, apa bisa kuda liar diambil susunya? Jawabnya, tentu saja susu kuda bisa diperas seliar apapun. Rasanya juga tak kalah dengan susu dari hewan lain.Prof. DR. Made Astawan, ahli teknologi pangan dan gizi dari IPB menyebutkan, bahwa gizi susu kuda liar tidak kalah dengan gizi susu sapi. Populer di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, kuda liar juga ternyata dikembangbiakkan di Sukabumi, Jawa Barat. Bahkan sangat populer di Perancis Selatan. Susunya juga diolah menjadi keju.Kadar lemaknya yang tinggi membuat susu kuda terasa gurih dan creamy. Warnanya putih kekuningan dan biasanya dijual dalam bentuk segar maupun sudah diolah. Susu kuda liar mengandung protein dengan berat molekul rendah sehingga mudah dicerna. Karena komposisinya zat gizinya mendekati air susu ibu (ASI), cocok dikonsumsi bayi.

Sama seperti susu sapi, susu kuda juga merupakan sumber lemak, vitamin, mineral. Asam lemak rantai pendek yang terkandung dalam membuat susu kuda mudah diserap tubuh. Menurut FAO, selain kandungan gizinya yang mendekati ASI, susu cocok untuk bayi karena kadar kaseinnya lebih rendah dibanding susu sapi. Kandunga kasein yang tinggi menurut Made, membuat susu mudah menggumpal dalam perut bayi sehingga lebih sulit dicerna.
Meski berpotensi mengandung Bacillus coagulans yang menyebabkan susu mengalami penggumpalan dan bakteri Citrobacter freundii serta jamur Saccharomyces sp, Aspergillus sp., dan Mucor sp sesuai penelitian yang dilakukan Sus Handayani dari Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, susu kuda liar sesungguhnya mengandung komponen antibakteri alami sehingga membuat susu menjadi awet.
Meski begitu, bila lingkunga luar tidak mendukung seperti pemerahan dengan tangan kotor, disimpan dalam ruangan lembab, susu tetap saja bisa cepat rusak.
Seratus gram susu kuda mengandung energi sebesar 44 kkal sedang akan 100 gram susu sapi mengandun 64 kkal dan ASI 70 kkal. Jadi, energi susu kuda lebih rendah dibanding susu sapi. Lebih dari itu, menurut penelitian Heru Yuniati, keunggulan susu kuda ada pada kandungan lisosimnya yang memiliki aktivitas antibakterial.Enzim ini berfungsi dalam kaitannya dengan laktoferin dan imunoglobulin A (Ig A). Lisosim efektif terhadap Escherichia coli bila bekerja sama dengan Ig A yang juga banyak terdapat pada susu sehingga risiko sakit perut atau diare akibat konsumsi susu dapat dikurangi.Lisosim ini penting karena perannya sebagai agen antiradang. Bahkan pemberian lisosim pada bayi baru lahir dapat mengurangi indikasi infeksi gastriintestinal atau salura pencernaan.

Monday, April 6, 2009

Buah Hati Cerdas

INGIN memiliki buah hati cerdas? Berikanlah ASI sejak lahir karena bayi yang mendapat air susu ibu terbukti memiliki kecerdasan lebih tinggi ketimbang mereka yang hanya diberi susu formula.

Besarnya manfaat ASI bagi kecerdasan bayi diungkapkan para peneliti dari McGill University di Kanada. Hasil riset mereka menyimpulkan bahwa bayi peminum AS menunjukkan hasil tes IQ yang lebih baik pada usia enam tahun.

Namun begitu, para peneliti tidak dapat memastikan apakah tingginya IQ tersebut disebabkan air susu atau pengaruh dari aktivitas menyusui . Riset yang melibatkan 14 ribu anak ini adalah bukti terbaru dari sekian banyak laporan tentang pengaruh positif ASI terhadap kecerdasan.

Masalah yang kerap dihadapi penelitian sebelumnya adalah kesulitan menentukan apakah hasil temuan berkaitan dengan fakta bahwa ibu dari kalangan elit cenderung mau memberi ASI, serta beragam faktor lain yang berhubungan dengan keadaan keluarga yang mempengaruhi kecerdasan.

Namun riset terbaru yang juga dimuat Archives of General Psychiatry ini mencoba memperhitungkan masalah tersebut dengan memantau perkembangan anak sejak lahir di beberapa rumah sakit di Belarusia. Beberapa rumah sakit di negara ini merekomendasikan para ibu untuk menyusui bayi dengan ASI.

Dari riset terungkap bahwa anak yang mendapat ASI ekslusif selama 3 bulan pertama - dan kebanyakan juga berlanjut hingga setahun - mencatat rata-rata 5,9 poin lebih besar dalam tes IQ pada usia 6 tahun.
Para guru juga merata-ratakan anak penerima ASI secara signifikan memiliki kemampuan akademis lebih tinggi, baik dalam membaca dan menulis.

"Pemberian ASI ekslusif jangka panjang tampaknya memperbaiki perkembangan kognitif anak-anak," ujar pimpinan riset Profesor Michael Kramer.

Menurut analisa riset, beragam asam lemak yang terkandung dalam ASI diyakini mampu meningkatkan kecerdasan. Selain itu, aspek fisik dan emosional dalam proses menyusui dapat menciptakan perubahan permanen pada perkembangan otak anak.

Para peneliti juga mengindikasikan kegiatan pemberian ASI meningkatkan interaksi verbal antara ibu dan anak, yang pada gilirannya membantu perkembangan mereka.

Saturday, March 28, 2009

ASI Sebagai makanan utama

MEMBERIKAN air susu ibu (ASI) sebagai makanan utama adalah keputusan terbaik untuk bayi di awal masa pertumbuhannya. Selain membentuk sistem kekebalan tubuh yang kuat, ASI akan membuat anak tumbuh lebih cerdas dan sehat. Tepatnya, ASI akan menormalkan kolesterol.

Di antara sekian banyak manfaatnya bagi bayi, sebuah penelitian terbaru di AS mengindikasikan bahwa ASI dapat mempengaruhi pembentukan sistem metabolisme lemak dalam darah. Seperti dipublikasikan The American Journal of Clinical Nutrition, pemberian ASI semasa bayi akan membuat seseorang tumbuh lebih sehat saat karena kadar kolesterolnya cenderung lebih baik saat mencapai usia dewasa.

Kesimpulan ini merupakan hasil analsis dan kajian data 17 riset melibatkan 17 ribu partisipan yang memperoleh ASI maupun susu formula. Kajian riset ini, kata peneliti, pada intinya memberi rekomendasi bahwa paparan terhadap ASI secara dini berkaitan dengan rendahnya kadar kolesterol saat menginjak usia dewasa.

“Oleh karena ada bukti substansial bahwa ASI menyediakan manfaat dan proteksi kesehatan jangka panjang, pemberian ASI sebaiknya diutamakan apabila memungkinkan,” ungkap para peneliti seperti dikutip WebMD.

Dari hasil analisis terungkap, para partisipan dari tujuh penelitian yang mendapat ASI secara ekslusif tercatat memiliki kadar kolesterol yang sedikit lebih rendah pada masa dewasa dibandingkan mereka yang hanya mendapatkan susu formula.

Dalam tinjauan penelitian sebelumnya, para ahli juga menemukan bahwa kadar kolesterol darah tercatat lebih tinggi pada bayi-bayi yang diberikan ASI ketimbang bayi yang mendaparkan susu formula. Ketika menginjak usia kanak-kanak, kadar kolesterol pada kedua kelompok ini tidak menunjukkan perbedaan.

“Penemuan ini membawa kami pada sebuah hipotesa bahwa paparan sejak dini terhadap ASI yang mengandung kolesterol tinggi mungkin dapat mempengaruhi metabolisme kolesterol jangka panjang ,” kata peneliti.

Kajian riset ini didasarkan atas data-data dari 17 studi observasi yang mencatat apakah partisipan mendapatkan ASI atau susu formula dan juga menjalani pengukuran kadar kolesterol saat menginjak usia dewasa. Data diambil dari sekitar 17.000 partisipan -- 12.890 di antaranya mendapat ASI dan 4.608 lainnya meminum susus formula. Penelitian juga memperhitungkan faktor lain seperti status sosial ekonomi, indeks masa tubuh, usia dan kebiasaan merokok.

Alasan mengapa pemberian ASI menyebabkan rendahnya kadar kolesterol saat dewasa, kata para ahli, adalah tingginya kandungan kolesterol dalam ASI kemungkinan dapat memicu perubahan fisiologis yang mempengaruhi sintesis kolesterol. Namun begitu, peneliti juga menekankan bahwa faktor lain seperti perbedaan gaya hidup antara orang dewasa yang semasa kecilnya mendapat ASI atau susu formula, mungkin juga berperan.

Saturday, March 14, 2009

Keunggulan ASI

KEUNGGULAN air susu ibu (ASI) sebagai makanan alami bayi pada awal masa kehidupannya memang tidak terbantahkan. Satu bukti lain yang menunjukkan betapa hebatnya ASI adalah rasa air susu alami ini ternyata dibentuk dan dipengaruhi oleh apa yang dimakan sang ibu.

Maka dari itulah, bayi yang memperoleh ASI sejak lahir cenderung lebih sehat karena mereka sudah dapat mengenal bermacam rasa sejak dini, termasuk rasa buah-buahan atau sayuran yang dikonsumsi sang ibu. Dengan begitu, bayi yang mendapatkan aroma ASI bervariasi bukan tidak mungkin akan tumbuh sebagai "petualang" dalam hal makanan ketika menginjak dewasa.

"Ini bukan seperti ketika ibunya makan pai apel lalu si bayi akan berpikir 'mmmm, inilah pai apel', tetapi lebih pada suatu penerimaan terhadap rasa makanan lain," ungkap peneliti Denmark, Helene Hausner. "Menyusui dengan ASI akan membuat bayi menjadi lebih siap terhadap perubahan rasa dan pengalaman baru ketika mereka mulai mengonsumsi makanan cair," ujarnya.

Untuk membuktikan sejauh mana pengaruh asupan makanan terhadap aroma ASI yang dihasilkan, peneliti dari Universitas Kopenhagen melakukan riset yang melibatkan para ibu menyusui. Para ibu diberi kapsul yang mengandung barmacam-macam aroma atau rasa dan kemudian melacaknya guna mengetahui seberapa lama penanda rasa pada kapsul tersebut muncul dalam air susu ibu.

Riset yang dipublikasikan jurnal New Scientist itu menunjukkan, rasa atau aroma pisang mulai hadir sekitar satu jam setelah dimakan para ibu.
Sedangkan aroma mentol atau mint baru hadir delapan jam kemudian. Kadar dari dua jenis rasa lainnya, akar manis dan bumbu caraway, dapat mencapai puncaknya dalam dua jam.

Jumlah aroma yang ditransfer di antara wanita memang bervariasi, tapi semua aroma atau rasa ini akan mulai menghilang dari ASI dalam selang waktu delapan jam. Hasil awal dari penelitian kedua yang dilakukan para ilmuwan Denmark ini mengindikasikan bahwa bayi-bayi yang memperoleh ASI cenderung lebih mudah beradaptasi dengan rasa baru ketimbang mereka yang mendapat susu botol